Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
blog-img-10

Posted by : COLEN.ID

Prosa Fiksi Bernuansa Betawi Era Kontemporer

Oleh: Rizki Dickay Ramadhan 

 

Sastra pada dasarnya adalah sebuah ekspresi dari seorang pengarang untuk mengungkapkan gagasan dengan identitasnya sendiri. Sastra tumbuh dan berkembang sesuai dengan keadaan yang terjadi disetiap masa. Kehadiran sastra juga merepresentasikan nilai-nilai lokal dalam suatu masyarakat. Nilai-nilai lokal inilah yang membuat sastra semakin hidup di dalam masyarakat sekitar. Sehingga kehadiran sastra memberikan pengetahuan dan pengalaman yang juga bisa dirasakan dengan membaca.

Karya sastra yang mengangkat kearifan lokal memang banyak dalam sejarah sastra Indonesia. Kearifan tersebut menunjukan adanya kepedulian pengarang dalam membangun aspek-aspek lokal dalam karya sastra. Begitu juga karena melihat konteks yang telah hadir di masyarakat tertentu untuk mengabadikannya dalam bentuk tulisan fiksi. Misalkan dalam novel yang mengangkat kearifan lokal masyarakat Papua. Novel tersebut tergambar dalam karya Ani Sekarningsih yang berjudul Namaku Teweraut. Selain Ani, Anindita Siswanto Thayf melalui novelnya Tanah Tabu—yang meraih Pemenang 1 sayembara novel DKJ 2008—juga membahas Papua tentang pertentangan masyarakat dan pihak luar. Nunuk Y. Kusmiana yang novelnya berjudul Lengking Burung Kasuari dalam novelnya juga membahas Papua.

  Contoh di atas juga hanya berdasarkan prosa fiksi—cerpen dan novel—saja dan belum ditambahkan puisi serta drama. Pembahasan nilai lokal Papua tersebut adalah contoh kecil dari sejarah sastra Indonesia. Masih banyak karya-karya lainnya—bahkan juga bukan hanya Papua saja—yang membahas kelokalan dalam sastra Indonesia. Kalau diurutkan dalam sejarah sastra Indonesia menurut Ajip Rosidi yang mengatakan bahwa awal mula sastra Indonesia pada 1920 melalui novel Merari Siregar yang berjudul Azab dan Sengsara maka sangatlah banyak nuansa lokal suatu daerah dari tahun tersebut sampai sekarang ini.

Selain Papua, nuansa Betawi juga muncul dalam karya sastra Indonesia. Kemunculan tersebut menandakan bahwa di pusat pemerintahan masih ada kearifan lokal. Pada karya-karya yang bernuansa Betawi ada kemunculan tahun yang berdekatan dalam 10 tahun tertentu. Misalkan saja karya M. Balfas yang berjudul Lingkaran-lingkaran Retak diterbitkan pada tahun 1952. Berlanjut pada S.M. Ardan dalam kumpulan cerpen Terang Bulan Terang di Kali tahun 1955. Satu tahun setelah Ardan, ada Aman Datuk Madjoindo dengan karyanya Si Doel Anak Betawi di tahun 1956. Dilanjutkan dengan Firman Muntaco yang menerbitkan Gambang Jakarte I tahun 1960 dan Gambang Jakarte II tahun 1963. Sesudah revolusi inilah dalam 10 tahun karya-karya prosa fiksi Betawi mulai bermunculan.

Setelah reformasi, masih dalam rentang waktu 10 tahun bermunculan pula penulis yang menerbitkan bukunya pada rentang waktu tersebut. Zen Hae misalnya, ia menerbitkan buku Rumah Kawin pada tahun 2004. Ada juga Ben Sohib yang menerbitkan The Da Peci Code pada tahun 2006, dua tahun berikutnya ia menerbitkan Rosid dan Delia. Tahun 2008, Chairil Gibran Ramadhan menerbitkan kumpulan cerpennya Sebelas Colen di Malam Lebaran. Satu tahun kemudian, 2009, novel Kronik Betawi karya Ratih Kumala diterbitkan. Selanjutnya, tahun 2012, Aba Mardjani menerbitkan karyanya Bang Jali Kondangan.

Karya sastra bernuansa Betawi setelah reformasi ini merupakan ekspresi baru dari orang-orang baru—yang masih cukup muda—dalam karier kepengarangannya. Zen Hae misalnya, ia seorang penulis dan sastrawan kelahiran Jakarta, 12 April 1970. Pendidikan yang pernah ditempuh Zen Hae adalah Jurusan Bahasa dan Sastra Indonesia IKIP Jakarta (kini Universitas Negeri Jakarta). Zen Hae juga merupakan Manager Penerbitan di Komunitas Salihara Jakarta. Karya-karyanya banyak muncul di media massa. Beberapa buku sastra hasil karya Zen Hae di antaranya adalah Rumah Kawin (2004), Paus Merah Jambu (2007), Out of Ubud (2014), Narasi 34 Jam (2001), Datang dari Masa Depan (1999), Pemintal Ombak (1996), Sayang (1994).

Karya-karya Zen Hae di atas yang menunjukan nuansa Betawi ada dalam Rumah Kawin. Karyanya ini mengupas masa lalu Jakarta dengan cermat sehingga pembaca mampu masuk ke dalam suasana saat itu. Misalkan cerpennya yang berjudul Rumah Kawin, cerpen ini ingin mengenalkan kepada khalayak umum di Indonesia ini khususnya Jakarta dan sekitarnya tentang kesenian yang sudah jarang ditemukan di sekitar wilayah Betawi. Betawi itu sendiri secara biologis adalah anak kandung dari kota Jakarta. Sedangkan, secara geografis orang-orang dan kehidupan Betawi selain di Jakarta juga ada di daerah tangerang, sebagian bogor, depok, dan juga bekasi—seperti yang sering didengar Jabodetabek.

Berlanjut dengan cerpen Rumah Kawin ini ada sebuah kekhasan dari cerpen yang mengangkat kesenian Cokek yang merupakan sebuah tarian pergaulan masyarakat Betawi peranakan Cina. Cokek dan segala macam pendukungnya mampu membuat pembaca harus memahami makna yang jarang ditemukan dalam kehidupannya sehari-hari. Beberapa kata inilah yang membuat cerpen ini bukan hanya menarik dari segi isi juga dari segi bahasanya. Cerpen ini mencoba memulai dengan lagu yang biasa dinyanyikan bersamaan dengan wayang cokek yang sedang menari. Lagu yang dikisahkan identik dengan masyarakat Betawi yaitu lagu Cente Manis dan Ayam Jago.

Lagu Cente Manis baru saja berakhir dari mulut Gwat Nio. Para wayang cokek sudah mengosongkan kalangan

“Aih, jangan tinggalkan abang, manis. Jangan pampat kawah yang mau meledak ini. Ooohh... Heh, panjak, gesekin gua lagu Ayam Jago. Gue mau ngibing lagi.”

 

Bukan hanya lagu-lagu melainkan juga iringan lagu tersebut langsung dipimpin oleh panjak atau pemain musik gambang kromong sebagai pengiring dari cokek itu sendiri. Alat musik gambang kromong tersebut juga disebutkan oleh Zen Hae untuk menguatkan unsur dari cerita cokek ini. 

Teh yan digesek, disusul gambang, kecrek, gong, suling, dan kempul. Susul-menyusul. Jalin-menjalin.

Istilah-istilah dalam cerpen ini menguatkan dan justru menjadi pertanyaan sendiri arti dari setiap kata yang dinarasikan. Seperti yang sudah disebutkan di atas terkait dengan makna cokek. Selain cokek, ada makna wayang cokek yang merupakan penari cokek. Disebutkan pula tentang panjak yang berarti pemain musik gambang kromong yang biasa mengiringi cokek. Ada beberapa pula menerangkan tentang cukin, ngibing, juga kalangan. Cukin merupakan selendang untuk menarik para pengibing, ngibing itu sendiri adalah menari dan biasanya para penari ada di kalangan atau tempat ngibing. 

Begitulah Zen Hae menggambarkan Betawi dari kesenian yang sampai saat ini masih ada meski hanya dibeberapa tempat saja. Selain Zen Hae, ada Ben Sohib yang menggambarkan Betawi dari aspek yang berbeda dengan Zen Hae. Ben Sohib lahir pada 22 Maret di Jakarta. Dua novel best-sellernya The Da Peci Code juga Rosid dan Delia diangkat ke layar lebar dengan judul Tiga Hari, Dua Dunia, Satu Cinta ini mendapatkan banyak penghargaan. Penghargaan tersebut salah satunya film terbaik dalam Festival Film Indonesia 2011. Dia mulai menulis sejak SMP. Beberapa tulisannya berupa puisi, cerpen, dan feature dimuat di Sinar Harapan, Pelita, dan Hai. Saat ini ia bergiat di Majelis Sastra Masjid Al-Makmur di Cililitan Kecil, Jakarta Timur.

Ben dalam karyanya The Da Peci Code lebih kepada menceritakan Betawi keturunan Arab dalam konsep keagamaan. Konsep agama itulah yang mengawali segala peristiwa dalam karya tersebut. Agama Islam yang selalu diidentikan dengan Betawi apalagi untuk keturunan Arab yang mempunyai kelompoknya sendiri sebagai bagian dari Betawi. Ben dengan cerdik mengolah kebiasaan orang-orang Betawi keturunan Arab yang selalu memakai peci putih sebagai warisan leluhurnya. Secara budaya, untuk orang Indonesia biasanya mengenal peci putih tersebut dengan istilah “peci haji” karena biasanya orang yang sudah haji selalu memakai peci tersebut. Hal yang menarik dalam cerita ini bukan karena kebiasaan memakai peci yang diteruskan dari generasi ke generasi melainkan kepada pertentangan penggunaan peci putih tersebut. 

Penggunaan peci putih tersebut dinilai sakral sebagai bagian dari kebiasaan beragama. Padahal konsep beragama tidak melulu perihal aksesoris semata melainkan lebih kepada akhlak yang mulia. Hal inilah yang menjadikan Rosid yang begitu berani menentang ayahnya sendiri, Mansur, terkait dengan peci putih yang dipakai selama turun-temurun. Konflik Rosyid dan Mansur merupakan berawal dari masyarakat Betawi keturunan Arab yang gemar memakai peci putih. Konflik ini menjadi semakin menjadi ketika Mansur mengusir Rosyid dari rumahnya sendiri.

“Muzna menatap wajah lelap sang suami. Ia tahu suaminya sedang masygul. Kemarin ia terlibat pertengkaran hebat dengan Rosid.... Pertempuran itu berakhir dengan diusirnya Rosid dari rumah.”

Kelekatan Betawi dengan agama Islam karena mayoritas orang Betawi beragama Islam—bahkan hampir semua—membuat Snouk Hugronje memberikan pendapat. Hugronje mengatakan bahwa di Nusantara ini tidak ada yang lebih religius daripada orang Betawi. Hal ini membuat orang Betawi berpikir konservatif dan selalu mengidentikan dengan simbol-simbol yang bernafas Islam. Padahal simbol-simbol tersebut belum tentu menentukan tingkat keislaman seseorang. Hal itulah yang membuat simbol peci putih begitu berarti bagi kebanyakan orang muslim Betawi. 

Ben, karena daerah dan keturunannya Betawi Arab maka kejadian ini sangat melekat dalam kehidupan kesehariannya. Ia berani menggugat apa yang sudah menjadi kebiasaan masyarakat di sekitarnya. Beda halnya dengan Chairil Gibran Ramadhan yang juga menulis cerpen-cerpen bernuansa Betawi. Chairil Gibran Ramadhan (CGR), lahir dan besar di Pondok Pinang, Jakarta Selatan yang sebagiannya “menjadi” Pondok Indah—dan sangat mengenal seruas jalan bernama H. Saiman—Warung Atas. Alumnus IISIP Jakarta Lenteng Agung (1996), SMA Kartika, Bintaro (1991), SMP YAPSI, Pasar Jumat (1988), SDN 02 Petang, Pondok Pinang (1985), dan TK Arya Darma, Pondok Pinang (1979). Pernah menjadi wartawan dan redaktur musik sebuah majalah remaja di Jakarta. Mundur dari dunia pers karena jenuh dengan dunia hiburan dan menolak menulis gosip.

Gemar mengolah dunia Betawi dalam cerpennya setelah menyadari tidak ada karya dalam nuansa kampung halamannya di media nasional. Ia merintis karir menulis dengan menyendiri, dan tidak pernah menjadi anggota komunitas sastra dan ormas Betawi manapun. Cerpennya tampil di majalah sastra Horison, harian The Jakarta Post, Kompas, Koran Tempo, Media Indonesia, Republika, Suara Pembaharuan, Seputar Indonesia, Sinar Harapan, tabloid Nova, majalah Lisa, Kartini, Femina, Annida, dan lainnya. 

Chairil Gibran Ramadhan (CGR) dengan kumpulan cerpen Sebelas Colen di Malam Lebaran mampu memberikan kearifan lokal yang berbeda dari Zen Hae maupun Ben Sohib. CGR melalui cerpen Malam Terang Bulan memadukan cerita turun-temurun dengan mitos. CGR mencoba memunculkan sosok Pitung yang menjadi tokoh jagoan dalam Betawi. Pitung yang CGR narasikan bukan hanya tentang kehebatan diri yang jago main-pukul dan membantu masyarakat sekitar. Pitung di sini justru menjadi sebuah mitos yang selalu diceritakan turun-temurun melalui orang tua maupun guru padepokan silat. 

Di masa kecilnya is memang pernah mendengar cerita dari ayahnya tentang seorang lelaki dari kampung mereka yang katanya hidup sezaman dengan Pi Tung, hanya saja lebih muda beberapa tahun. Sang ayah lepas sholat Ashar sering menceritakannya kisah-kisah para jawara di teras musholla kayu di pinggir kali dekat kampung atau saat duduk-duduk di depan rumah sambil menikmati angin malam usai melatihnya pencak silat.

CGR dibagian akhir memberikan sebuah kejelasan akan sosok yang sering diceritakan di padepokan-padepokan silat. Selain Pitung dan Jampang yang menjadi sosok jagoan dalam cerita-cerita Betawi CGR memberikan informasi yang baru terkait Nasan yang menjadi mitos bahkan sampai saat ini. CGR meramu dan memberikan pengetahuan yang segar tentang Nasan yang hadir—padahal sudah lama tidak ada—di sekitar kali tempat para pesilat latihan. 

Di bawah sinar rembulan, seorang lelaki bersidekap di atas getek bambu yang berjalan ke arah selatan padahal air mengalir ke utara. Tak dikayuh dan tak ada yang mengayuh. Matanya memandang lurus ke depan.

Nasan!

Sinar rembulan menyelinap di sela-sela daun bambu. Daun bambu bergesekan digoyang angin.

 

CGR memunculkan mitos jagoan Betawi dan tidak melulu soal Pitung. Nasan—jagoan Betawi—juga sebuah refleksi bahwa mitos tentang jagoan adalah kepercayaan orang-orang Betawi. Munculnya Nasan di tengah kali merupakan ilusi dan imajinasi sehingga Nasan seolah-olah hadir saat latihan silat sedang berlangsung. CGR mampu memberikan penggambaran yang tidak semua orang tau siapa Nasan sebenarnya dibanding dengan ketenaran Pitung dan Jampang.

CGR menjadikan mitos dan folklor menjadi lebih hidup melalui cerpen-cerpennya. Selain CGR, ada Ratih Kumala yang menerbitkan novelnya Kronik Betawi pada 2009. Ratih kumala, lahir di Jakarta tahun 1980. Ia lahir dan besar di keluarga yang merupakan campuran dari Betawi dan Jawa. Ayahnya merupakan orang Betawi asli dan ibunya berasal dari Solo. Sejak kecil ia sudah sangat dekat dengan kebudayaan Betawi, salah satunya adalah kerak telor yang merupakan makanan khas Betawi.

Ratih kumala melalui novelnya menarasikan keluarga Betawi yang mempunyai peternakan sapi perah. Namun, bukan sekadar keluarga juga kisah pelik lainnya yang dialami orang-orang dalam keluarga tersebut dan juga lingkungan sekitar. Kejadian ini tentu bukan pada masa sekarang, kejadian dalam novel tersebut pada masa kolonialisme. Tokoh yang sangat sentral dalam novel tersebut adalah Juned anak buah seorang Belanda yaitu Tuan Henk. 

Juned bekerja untuk seorang Belanda yang memiliki perternakan sapi.... Tua Henk menerimanya bekerja karena ia segelintir dari sedikit orang yang waktu itu bisa baca dan tulis. 

Penggalan di atas menyatakan bahwa pada saat itu orang yang bisa baca dan tulis itu jarang. Sekalinya ada maka digaji lebih besar dibanding dengan kuli-kuli yang bekerja dalam pembangunan dan lainnya. Perbedaan kekuasaan juga membuat semua orang pribumi—khususnya Betawi—tidak begitu punya daya dan upaya dalam melakukan dan mempertahankan hak-hak sebagai milik pribadi. Hal ini tergambar dari perampasan hak tanah yang warga Betawi miliki demi terlaksananya pembangunan. Ratih menarisikan bahwa ada ketidakadilan antara penduduk tetap dengan pendatang. Melalui tokoh Jaelani yang memprotes pengambilan tanah miliknya.

“Lucu amat yak? Tanah milik aye, hanya gara-gara terlambat mengajukan permohonan, jadi milik negara?! Sedang orang-orang pendatang dikasih setipikat Prona. Mana adilnya?”

“Apa?! Elu mau gua tinggal di kandang lutung yang lu bikin itu?! Sembarangan aja lu tanah orang mau diambil jadi milik negara.”

Ratih dengan cerita kolonialisme ini telah menyampaikan bahwa pada masa tersebut banyak warga yang tinggal di Betawi mengalami ketidakadilan. Kekuasaan kolonial memang menjadi momok yang menakutkan bagi setiap orang yang berada di masa itu. Tokoh Juned dan Jaelani adalah tokoh Betawi yang berbeda. Juned yang bisa baca dan tulis harus rela menjadi anak buah kompeni karena kebutuhan hidupnya. Sementara Jaelani tidak menerima perlakuan kompeni yang mengambil haknya dengan sewenang-wenang dan tidak adil.

Lain Ratih, lain juga dengan Aba Mardjani. Aba Mardjani lahir di Jakarta, 19 Februari 1959. Ia mengenal betul kampung Pondok Pinang dan Tanah Kusir di Jakarta Selatan. Ia sempat mengenyam pendidikan di Sekolah Tinggi Publisistik (kini Institut Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Lenteng Agung, Jakarta), namun tidak selesai karena terlalu asik bekerja. Ia sering menulis cerpen dan diterbitkan di harian Kompas, Pikiran Rakyat, Suara Karya, tabloid Nova, majalah Kartini, dan lainnya. Ia mengawali dunia penulisan fiksi melalui cerpen anak-anak di majalah Kawanku, Bobo, Kucica, Tom-Tom, harian Pelita, dan lainya. Kariernya juga sebagai wartawan; tabloid BOLA (1984-1994), tabloid GO (1994-2007), dan kini di harian GOSport.

Aba Mardjani tahun 2012 menerbitkan buku kumpulan cerpen Bang Jali Kondangan. Bukunya bernuansa Betawi ini mampu menjadikan refleksi dari karya-karyanya tentang anak dan olahraga. Cerpen Kue Gemblong Mak Saniah misalnya, mengingatkan akan makanan yang sering dimakan, gemblong. Gemblong menjadi penganan cemilan untuk yang ingin merasakan gurih dan manisnya gemblong itu sendiri. Tapi bukan itu yang ingin digambarkan Aba. Aba menggambarkan seorang keluarga yang ingin makan kue gemblong buatan Mak Saniah.

“Mengapa abang tiba-tiba kepingin makan kue gemblong Mak Saniah?” Asyura bertanya ketika Masdudin tengah mengatur napas.

Kegemaran orang-orang Betawi yang makan kue gemblong dari penjual keliling adalah sesuatu yang biasa dilakukan di daerah kampung di Betawi. Kepintaran Mak Saniah dalam membuat kue dan menjajakan makanan khas itu adalah sebuah mata pencaharian yang sekarang sudah jarang di daerah Jakarta, khususnya kota. Begitu juga dengan sifat penjual dan pembeli yang sama-sama saling menghargai dan menjadikan persaudaraan antar kampung meski jaraknya tidak dekat. Aba menggambarkan bukan hanya dari sisi makanannya saja tapi bagaima silaturahmi bagi setiap orang Betawi bukan hanya terjadi pada saat lebaran saja.

Silaturahmi inilah yang ingin Aba tunjukan dengan bungkusan jualan Mak Saniah. Adanya silaturahmi ini mengeratkan hubungan Mak Saniah dengan Masdudin dan Asyura. Sehingga pada saat kepergian Mak Saniah mereka merasakan kesedihan. Kesedihan itu ditambah dengan rasa keingintahuan akibat amplop yang dititipkan Mak Saniah untuk suami istri tersebut.

“Ada apa ini?” Asyura langsung bertanya. “Apa ada kabar buruk tentang Mak Saniah?” lanjut Asyura. Kali ini, pertanyaan itu disimpan dalam hati. Namun, ada debar-debar di dadaanya.

Cindi mengeluarkan sebuah amplop berwarna putih dan memberikannya kepada Asyura. “Ini ada titipan dari Mak. Katanya minta disampaikan kepada Bu Asyura. Karena ini amanat, jadi buru-buru saya sampaikan.”

“Meninggalnya hari jumat kemarin,” lanjut Cindi.

Penggalan di atas menandakan bahwa silaturahmi disetiap kampung harus terjalin erat seperti silaturahmi dengan Mak Saniah di atas. Aba dengan cerpen tersebut mampu menyelipkan permasalahan sehari-hari yang sekarang sudah jarang ditemui. Makanan khas yang dijajakan keliling lama-kelamaan mulai jarang ada. Apalagi silaturahmi dengan orang yang bukan saudara sekandung harus dilakukan sebagai bentuk nilai sosial dalam kehidupan.

Zen Hae, Ben Sohib, Chairil Gibran Ramadhan, Ratih Kumala, dan Aba Marjani, masing-masing memiliki caranya sendiri dalam mengungkapkan Betawi. Betawi menjadi primadona yang baru-baru ini hadir kembali dalam cerita-cerita yang mungkin jarang bahkan tidak akan pernah terjadi lagi. Meski ada pula kejadian-kejadian yang sampai saat ini masih terus ada dijalankan oleh generasi-generasi penerus. Nuansa Betawi dalam perspektif lima orang itu menjadi kesadaran akan etnik yang berada di tengah-tengah kota tapi seperti terpinggirkan.