Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
blog-img-10

Posted by : COLEN.ID

Pendidikan yang Tidak Membebaskan

Oleh: M. Saddam Hussein

Sejak diberlakukannya pembelajaran daring pada tahun lalu.[1] Pendidikan kita ternyata tidak baik-baik saja. Dimulai dari persoalan kegagapan guru dalam menyiasati kondisi yang ada hingga menyasar siswa pada beban tugas yang sungguh luar biasa. Bahkan salah satu artikel di Tirto[2] menceritakan dalam satu hari sekolah mereka mesti mengumpulkan tugas yang banyak. Rutinitas yang dilalui kemudian membuat sebagian besar siswa menjadi jengah. Stres dan burnout seolah sudah masuk ke pengalaman kebertubuhan. Sebagaimana konsep Maurice Merleau-Ponty tentang tubuh subjek. Hal ini dijelaskannya dengan uraian tubuh dan subjek tidak termasuk dua hal berbeda, melainkan tubuh sendiri adalah subjek. Tubuh melibatkan kita dalam dunia dan merupakan perspektif kita dalam dunia. Dengan kata lain, pengalaman kebertubuhan dapat dibilang bagian yang tidak terpisahkan dari diri kita. Pasalnya, modus manusia bereksistensi adalah mencerap atas yang ada di dunia sehingga melahirkan pandangan dunia.

Jauh ketika belajar masih di ruang kelas antar satu sama lain bisa saling bercengkerama. Konteks sekarang diisi oleh pembelajaran via perangkat aplikasi agar menunjang itu semua. Cara di atas apabila tidak kreatif lambat laun menggerus sesuatu yang substantif dalam proses pembelajaran. Segi substantif tersebut berupa pertukaran emosi. Emosi sebagai unsur perasaan siswa sangat menentukan dalam menerima pelajaran. Senang atau benci otomatis akan tampak melalui gestur mereka. Namun, mengingat pembelajaran daring terus berlangsung alhasil membuat guru kesulitan untuk memproyeksikan dengan jelas seluruh pemahaman siswa.

Menurut survei Komisi Perlindungan Anak Indonesia (KPAI)[3] ditemukan sebesar 78% siswa menginginkan pembelajaran tatap muka. Dalam hal ini sekitar hitungan satu hari atau dua hari dalam seminggu, sementara alasan di balik para siswa mau belajar tatap muka adalah mereka kesulitan dengan beberapa pelajaran dan praktikum yang tidak mungkin diajarkan secara daring. UNICEF di waktu yang berbeda[4] menyurvei juga sejumlah siswa di tiga puluh empat provinsi dan hasil yang didapat sebanyak 66% dari 60 juta siswa merasa tidak nyaman belajar di rumah.

Gaya Celengan

Siswa yang diposisikan sebagai objek dalam pendidikan. Pada praktik yang ada tidak bisa berkutik terhadap pelajaran yang disampaikan guru. Terlebih pembelajaran daring yang masih terjadi sampai sekarang. Guru selaku pengajar senantiasa menggunakan metode ceramah saat proses pelajaran berlangsung sehingga cukup membosankan untuk para siswa yang turut hadir.

Padahal, di era banjir informasi abad ke – 21 ini semua orang bisa tahu dengan mudahnya lewat bantuan Google. Salah satu dari mereka semua adalah siswa dan yang dibutuhkan mereka ialah kecakapan literasi. Literasi di sini lalu tolong jangan diartikan sebatas baca dan tulis. Lebih dari itu bergumul pada praktik lingkup ilmu pengetahuan. Sebagai contoh Mohamad Hatta. Berbekal kecakapan literasi yang beliau miliki mampu membuat buku Alam Pikiran Yunani dari kumpulan ingatan dia yang berbagai referensi. Toh yang tidak kalah penting juga sosok wakil presiden pertama ini dikenal orang yang rendah hati. Jadi, kecakapan literasi mampu menumbuhkan rasa empati dan mengembangkan daya nalar kritis yang tinggi tak terkecuali siswa itu sendiri.

Mental Pekerja

Menurut Gramsci hegemoni adalah proses penciptaan, pemertahanan, dan reproduksi kelompok makna. Dalam hal ini ada yang mendominasi dan didominasi. Kaitan kepada kelas yang didominasi tersebut bukan terletak pada persoalan bahwa struktur sosial yang ada itu sebagai keinginan mereka, melainkan karena mereka kekurangan basis konseptual sehingga kurang efektif dalam memahami realitas sosial. Basis konseptual yang dimaksud di atas adalah persoalan ekonomi. Artinya, secara kepemilikan modal maupun alat produksi kelas  yang didominasi tidak memiliki hal ini.

Pendidikan selaku sektor yang menumbuhkembangkan potensi para siswa kemudian tidak bisa lepas dari campur tangan yang lain. Pasalnya, bagi Gramsci pendidikan yang ada tidak pernah menyediakan kemampuan daya nalar kritis. Sejalan dengan hal itu, mekanisme kelembagaan tersebut masih berada di tangan-tangan kelompok penguasa dalam menentukan ideologi mana yang akan diajarkan kepada mereka. Budaya berkompetisi dan tidak peduli kanan-kiri menjadi potret lumrah yang bisa ditemui pada wajah pendidikan kita. Bukankah baik budaya berkompetisi dan tidak peduli kanan-kiri adalah bagian dari kerasnya suasana di lingkup pekerjaan? Mengapa malah merembet ke sektor pendidikan? Atau ketika seseorang mengenyam pendidikan tanpa disadari sudah seperti pekerja? Mari kita renungkan bersama!

[1]https://pusdiklat.kemdikbud.go.id/surat-edaran-mendikbud-no-4-tahun-2020-tentang-pelaksanaan-kebijakan-pendidikan-dalam-masa-darurat-penyebaran-corona-virus-disease-covid-1-9/

[2]      https://tirto.id/segudang-masalah-belajar-dari-rumah-karena-corona-covid-19-eGqQ

[3]      https://nasional.kontan.co.id/news/survei-kpai-78-siswa-menginginkan-pembelajaran-tatap-muka

[4]      https://edukasi.kompas.com/read/2020/06/24/090832371/survei-unicef-66-persen-siswa-mengaku-tak-nyaman-belajar-di-rumah