Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
blog-img-10

Posted by : COLEN.ID

Ketika Sastra Melawan Orde Baru

Oleh: Rizki Dickay Ramadhan

Perlawanan adalah prasyarat mutlak dari keberadaan kebebasan. Mencakup semua hak, kebebasan adalah suatu yang tidak boleh tidak untuk ditunaikan. Apalagi bicara seni, adalah ekspresi yang bersifat bebas dari kebebasan itu sendiri. Seni tidak dapat dilumat dengan sebuah maklumat. Seni tidak bisa dihadang oleh sekat-sekat kepentingan apa pun. Ia bebas melayang dengan tenang tanpa batas-batas yang mengekang.

Seni – khususnya sastra – adalah sebuah perwujudan sekaligus bagian penting dari wacana kehidupan. Sastra tak bisa dilepaskan dari kondisi sosial yang ada di sekitar. Sastra dalam konteks perlawanan bukan hal yang tabu untuk diungkapkan, melainkan adalah kewajaran dalam mengekspresikan kehidupan. Sastra ‘perlawanan’ hadir bukan tanpa alasan. Ia berdiri pada sebuah fakta imajinatif dari rekaan dunia semesta. Pada batas-batas objektif, ia patuh dan tetap melawan ketidakadilan.

Konteks tragedi 1998 adalah salah satu bab dari lembar sejarah bangsa yang mengisahkan perlawanan terhadap kesewenangan rezim bangsa ini – Orde baru. Tragedi yang terus diingat dari berbagai sudut pandang setiap orang. Tragedi yang memangsa rakyat di negerinya sendiri. Tragedi yang menjadikan sastra sebagai ancaman dalam kepemimpinan.

Sebut saja penyair kondang WS. Rendra yang secara lantang melalui karya-karyanya menarasikan perlawanan. Rendra dikenal dengan sajak-sajaknya yang dengan lugas menentang segala macam kezoliman.

Penyair yang punya julukan Burung Merak ini pada 17 Mei 1998 membuat sebuah puisi yang berjudul Sajak Bulan Mei 1998 di Indonesia. Sajak ini ia buat akibat kerusuhan yang terjadi pada akhir Orde Baru tersebut dan sebagai bentuk perlawanan terhadap pimpinan tertinggi saat itu yang menjabat sebagai presiden selama 32 tahun – Soeharto. Tidak hanya menulis sajak, Rendra pada suatu kesempatan membacakan puisi tersebut tepat pada 18 Mei 1998 di Senayan dengan keberaniaannya yang menggelora.

Sejak menulis puisi-puisi yang bersifat perlawan terhadap kuasa rezim, Rendra sering kali mengalami tindakan penangkapan dengan dalih melawan pemerintahan, sebagai resiko dari penciptaan karya-karyanya. Tapi sejarah tak pernah habis pernah habis mengisahkan keberanian, Rendra tak gentar menghadapi risiko itu semua. Baginya mutlak, kesewenangan harus dituntaskan dan dilawan.

Selain Rendra, penyair lain yang memilih garis hidup serupa adalah Wiji Thukul. Sebagai tokoh yang memimpin Jaringan Kerja Kebudayaan Rakyat, karir keseniannya tak lagi diragukan. Wiji memiliki tradisi sendiri dalam mendistribusikan karya dan perlawanannya dengan keliling dari kampung ke kampung membacakan sajak-sajaknya kepada masyarakat luas. Sajak yang ia bacakan berisi penyadaran akan dinamika politik di Indonesia sekaligus propaganda cantik sesuai konteks sejarah perlawanan di saat itu.

Wiji dengan tegas melawan kekejaman Orde Baru melalui puisi-puisinya. Misalnya saja puisi yang berjudul Momok Hiyong yang ia tunjukan untuk si pembuat kedzoliman yang selalu menginjak rakyat kecil tanpa ada rasa kemanusiaan. Ada pula puisi yang sampai sekarang popular menjadi puisi perlawanan, yaitu puisi berjudul Peringatan. Puisi Peringatan ini adalah simbol perlawanan kata-kata dari sosok Wiji Thukul yang sampai saat ini hilang di tangan besi Orde baru.

Baik Rendra maupun Wiji adalah Sebagian dari penyair yang mentranformasikan karya-karyanya sebagai medium perlawanan terhadap kekejaman Orde Baru. Tak mudah dilupakan, itulah kata-kata yang pantas untuk Tragedi 1998 secara khusus dan umumnya untuk sistem pemerintahan Orde Baru yang banyak menuai penderitaan rakyat Indonesia.  Masih banyak seniman-seniman lain, khususnya sastrawan yang menggoreskan karyanya demi perlawanan dan penindasan.