Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
blog-img-10

Posted by : COLEN.ID

Dunia Maya Sebagai Modus Kita Mengatasi Pandemi

Oleh: M. Saddam Hussein

Sewaktu dulu kegiatan berkumpul bisa kita saksikan di setiap tempat baik di warung makan maupun tongkrongan. Malam hari juga bukan halangan. Selama sepakat, maka ketemuan. Kehadiran orang jauh beserta orang dekat membuat situasi tidak berjalan jemu. Makan, berbicara, dan bercanda ialah hal-hal yang dilakukan di dalamnya.

Akan tetapi, konteks sekarang yang bersifat demikian diperketat. Virus korona yang disepakati musuh bersama kemudian membuat langkah kita sejenak terhenti. Kondisi jalanan yang lengang dengan ditambah tidak ada lalu lalang para pembeli di pusat perbelanjaan merupakan potret umum yang sedang terjadi. Dari urusan pekerjaan sampai hiburan dilakukan di rumah. Kebiasaan tersebut membuat cara mengada kita jauh berbeda bila dibandingkan sebelum ada pandemi.

Intensi kita pada dunia maya melebar, sementara yang riil dilalui begitu saja. Kondisi ini didasarkan pada persoalan yang disebut relasi intersubyektif. Relasi intersubyektif bermakna cara bersosial kita dengan orang lain. Orang lain yang dimaksud sebelumnya berupa teman, karena berkat dia kita berelasi antar manusia. Seolah meneguhkan manusia memang makhluk sosial.

Gabriel Marcel berpendapat eksistensi manusia didorong hasrat kebersamaan. Ada selalu berarti Ada-bersama. Jelasnya, dua orang baru hadir manakala mereka mengarahkan diri yang satu kepada yang lain dengan cara tidak seperti menghadapi objek-objek. Perjumpaan “Aku”  “Engkau” mengadakan kontak dalam kacamata persona dengan persona. Misal, relasi yang terjalin dari dua mahasiswa yang melakukan magang. Ada dua alasan, di antaranya sama-sama mahasiswa dan Aku melihat Engkau adalah sesama. Saling terbuka dan memberi.

Pada dunia maya kita malah merasakan yang sebaliknya, bebas. Di sana semua serba cair. Persoalan ruang maupun waktu melebur menjadi satu. Kita yang berada di Jakarta dan teman yang di Yogyakarta dapat terhubung dengan internet termasuk selisih waktu Indonesia yang terpaut satu hingga dua jam. Keterhubungan ini yang menyebabkan intensi kita terhadap dunia maya melebar.

 

Daya Jangkau Dunia Maya

Kita tahu bahwa di tengah pandemi yang ada ruang lingkup manusia terbatas. Kegiatan olahraga, makan di restoran, dan berwisata dilarang. Intensi kita kepada dunia riil terbilang mengecil, lantaran tidak bisa melakukan relasi intersubyektif. Di hadapan dunia maya kemudian hal itu mampu dilakukan.

Perjumpaan kita dengan wajah-wajah orang lain dapat terwakilkan atas pesan video dan semacamnya. Identitas kita bisa diciptakan melalui cerita di lini masa. Preferensi tidak ikut ketinggalan secara otomatis akan tampak dari filter gelembung kepunyaan kita.

Dalam hal ini kita tidak berhenti pada berada-dalam-dunia, tetapi terbawa arus berada-dalam-www yang dikenal dengan dunia digital. Dasein bertransformasi Digi-sein. Kita tidak hanya hadir di sana. Namun, mencakup hadir di sini pula. Oleh karena eksistensi digital yang tidak berbentuk rentang kemewaktuan. Sekonyong-konyong dapat berakhir dan terlahir kembali tergantung Digi-sein.

Contoh dari fenomena itu adalah Digi-sein masuk ke grup media sosial, berkomentar, pamer, mengeluh, dan protes kemudian menghilang beberapa saat. Adapun walau lagi rapat di kantor, Digi-sein bisa hadir secara digital dalam grup Whatsapp. Dengan kata lain, Digi-sein bisa terlempar berkali-kali dan menghilangkan konsep tempat yang selama ini dimengerti dengan kehadiran bertubuh.

 

Transendensi

Dunia maya adalah prototipe dari kumpulan ide kita akan dunia. Fakta tentang dunia ini yang sungguh luas ditransfer ke sana sehingga dunia maya berada di seberang dunia riil kita. Dunia riil mengacu ke bagian-bagian yang sensibel, sementara dunia maya terletak pada ranah intelengibel. Satu sisi yang menempati dunia riil ialah jagat raya. Di sisi lain, media sosial dari segi dunia maya.

Yang sensibel adalah bisa diamati, diraba, dan disentuh. Angin topan, uang palsu sampai pohon tergolong ragam sensibel itu. Intelengibel berarti dunia ide. Foto, pesan, dan video menjadi sesuatu yang tidak terpisahkan di dunia maya. Tidak heran ketika berada di dunia tersebut kita asyik tercerap. Pasalnya, informasi-informasi yang berseliweran di dunia maya cukup mudah tercerap dengan mata dan dari dia turut membangkitkan kandungan hormon yang berada di otak.

Berbekal dunia maya yang hadir pada media sosial membuat sebagian besar kita mampu mengatasi pandemi. Tertawa, sedih, dan kesal adalah aneka ragam emosi yang keluar ketika mengaksesnya. Tidak merasa sendirian lalu ungkapan yang sesuai terkait kebosanan kita terus-terusan di rumah. Ada kesadaran kolektif yang menguatkan di sana agar tabah melewati pandemi.

“Kekhasan manusia ialah dia hanya dapat hidup dengan melihat ke masa depan.” Semoga yang dituturkan Viktor Frankl di atas tidak menghentikan kita dalam menjaga pikiran demi bertahan dari pandemi. Sekaligus tetap semangat menjalani hidup dengan tetap bertransendensi dari rumah di dunia maya supaya tidak jenuh.