Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
blog-img-10

Posted by : COLEN.ID

Dampak Sastra Cyber

Oleh: Oktavianna

  Perkembangan sastra di Indonesia selalu ditandai dengan perubahan pada pola publikasinya. Publikasi menjadi hal yang sangat vital dalam upaya membumikan sastra. Perihal publikasi misalnya, di dalamnya mengambil peran penting dalam perkembangan teknologi. Hal ini dapat dilihat pada pola penulisan karya sastra. Ditinjau dari sudut filologi, karya sastra hanya ada di daun lontar, bumbu, dan batu-batuan. Seiring perkembangan zaman, sastra hadir di media cetak bahkan media online yang memudahkan khalayak untuk menikmatinya.

  Perkembangan teknologi yang semakin pesat menyebabkan era sekarang disebut dengan era digital atau era 4.0. Perkembangan teknologi ini banyak memberikan manfaat pada masyarakat dengan cara menggunakan kemajuan teknologi secara bijaksana. Menurut Supriatin (2012), perkembangan teknologi komputer yang didukung multimedia dan internet ternyata dapat menjadi pendamping hidup yang bermanfaat apabila dipahami pada karakter teknologi tersebut. Media ini diciptakan untuk membantu manusia bukan hanya dalam hal informasi global, melainkan dalam hal bersastra. Insan sastra sudah sepantasnya membuka diri dan memanfaatkan sebaik-baiknya segala kemudahan dan kemungkinan yang disediakan teknologi.

  Perkembangan teknologi di tengah kehidupan masyarakat sangat dibutuhkan sekali untuk memudahkan masyarakat mencari informasi dan berkomunikasi. Selain itu, perkembangan teknologi ini memicu hadirnya sastra cyber. Sastra cyber adalah aktivitas sastra yang memanfaatkan komputer atau internet (Septiani, 2016). Sedangkan Viires (2005), menyatakan bahwa pada dasarnya sastra cyber berasal dari konsep digital, yakni segala bentuk kesastraan yang diciptakan dan difasilitasi oleh media komputer. Neuage (1997), juga berpendapat bahwa sastra cyber diperkirakan lahir pada tahun 1990, namun baru semenjak 1998 mulai mencapai popularitasnya.

  Kini, perkembangan sastra cyber semakin kompleks. Munculnya jejaring sosial seperti facebook, twitter, instagram, blog, dan lainnya membuat fenomena baru dalam kesastraan Indonesia. Jejaring sosial ini juga mewadahi penulis baru untuk mempublikasikan karyanya agar dapat diberikan masukan secara langsung oleh sastrawan ternama atau pembaca umum. Maka dari itu, sastra cyber memiliki tiga peran dalam kesastraan Indonesia: (1) sebagai media untuk mempublikasikan, (2) sebagai media untuk berkomunikasi antar penulis (sastrawan), dan (3) sebagai media pembelajaran untuk sastrawan pemula.

  Kemudahan sastra cyber ini memunculkan dampak positif dan negatif. Positif dari kemudahan sastra cyber ini adalah karya sastra dapat disajikan dengan mudah kepada masyarakat dan masyarakat mampu mengaksesnya dengan sangat mudah selama terkoneksi internet. Selain itu, sastra cyber juga menjadi peluang besar untuk penulis pemula dapat mengunggah karya sastranya dengan mudah yang memperluas kemungkinan akan dibaca oleh pembaca di sebagian dunia. Pembaca juga dapat bebas mengkritik tulisan penulis, sehingga penulis dapat menyadari kekurangan dari tulisan yang telah dibaca oleh para pembaca. Sedangkan, dampak negatif dari kemudahan sastra cyber ini adalah kemudahan mengunggah karya sastra memunculkan perbedaan kualitas yang selama ini dijaga dalam media massa. Masyarakat umum kemudian akan dibingungkan dengan kualitas mana yang baik karena siapapun bisa mengunggah karya sastranya tanpa perlu melewati proses seleksi atau editing. Selain itu, dampak negatif sastra cyber ini adalah banyaknya tindakan plagiat karya sastra, kurangnya penggunaan PUEBI yang benar, dan penyimpangan bahasa yang terjadi pada teks karya sastra yang dimuat pada jejaring sosial tanpa melewati proses kurasi.

  Kemunculan sastra cyber pada perkembangan dunia sastra era digitalisasi memang menimbulkan kritik pro dan kontra dari sastrawan-sastrawan Indonesia. Misalnya, dalam buku yang dieditori Saut Situmorang terangkum berbagai reaksi negatif dan positif karena kemunculan sastra cyber. Ahmadun Yosi Herfanda dalam artikelnya berjudul “Puisi Cyber, Genre atau Tong Sampah” secara terang-terangan menyebut puisi yang terbit di internet sebagai “Tong Sampah.” Pendapat ini disebabkan karena kualitas jenis sastra yang hanya bisa terbit di media massa, tidak bisa terbit di media cetak. Selain itu, Ahmadun menyebut bahwa pegiat sastra cyber adalah penulis yang gagal masuk koran karena karyanya tidak diterima. Sedangkan Maman S. Mahayana menyebut penulis puisi cyber tidak pantas disebut dengan penyair, karena tidak jelasnya produktivitas para penulisnya.

  Jamal D. Rahman, penyair yang juga redaktur majalah sastra Horison, menyebut bahwa komunitas yang menyandarkan kegiatannya di dunia maya itu membuka kemungkinan bagi sosialisasi sastra lebih jauh sebagai apresiasi positif terhadap sastra cyber. Menurut sastrawan Saut Situmorang dalam esainya “Krisis Kritik Sastra dan Sastra Cyber Indonesia” menyebut bahwa lahirnya sastra cyber adalah keniscayaan dalam sejarah sastra Indonesia. Perkembangan teknologi dan kemajuannya memberi pengaruh yang luar biasa dalam sastra. Theora Aghata juga berpendapat bahwa sastra cyber merupakan wahana berkreasi yang mampu mengupdate karya secara singkat sehingga menunjang produktivitas dan mendorong perkembangan sastra.

  Eksistensi sastra cyber tidak bisa dihindari karena sudah menjadi bagian sejarah sastra Indonesia. Sastra cyber merupakan reaksi positif bagi dunia sastra yang menyongsong kemajuan teknologi. Jejaring sosial hendaknya menjadi media yang dapat digunakan baik bagi sastrawan maupun pemula penulis. Hal ini menjadi tantangan sastrawan-sastrawan Indonesia dan juga tantangan bagi pelajar, mahasiswa, dan masyarakat untuk meningkatkan keilmuaan bidang kebahasaan dan kesastraan agar bisa menompang pemikiran-pemikiran terhadap karya sastra cyber. Kemudahan sastra cyber yang didukung oleh kemajuan teknologi ini jadikanlah peluang besar untuk mengeksplor pemikiran-pemikiran melalui karya sastra. Jika bukan kita yang menghidupan teknologi dengan hal-hal positif, lalu siapa lagi? Kemajuan negara Indonesia dipegang oleh pemuda-pemudi Indonesia. Maka, jadilah pemuda-pemudi yang mampu melahirkan karya-karya sastra.

 

 

Daftar Pustaka

Solihati, Nani. 2014. Penyimpangan Bahasa Puisi dalam Sastra Cyber. Jurnal Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia No. 1.

Mulyani, Yuni Supriatin. 2012. Kritik Sastra Cyber. Jurnal Sosioteknologi Edisi 25 Tahun.