Box Layout

HTML Layout
Backgroud Images
Backgroud Pattern
single-event-img-1

Surat Untuk Bapak


Oleh: Selfia Darmawati

 

Entah kapan bapak akan pulang.

Angin bersiul dengan tenang. Menggerakkan daun-daun cemara. Hari ini adalah ulang tahun bapak. Meski bapak tidak ada, aku tahu, banyak orang di penjuru negeri ini turut merayakan ulang tahun bapak, mulai dari yang membaca sejarah sepenuh hati sampai orang-orang yang hanya bersimpati, dan berlagak kritis. Katanya, bapak yang mata kanannya terluka adalah salah satu orang hebat yang lahir di bulan Agustus. Katanya lagi, bapak adalah salah satu orang yang membawa kemerdekaan kedua bagi bangsa Indonesia. Tetapi tak sedikit juga yang membenci bapak, yang berkata bahwa bapak adalah penjahat negara yang menentang pemerintahan—pada masanya.

Aku ingat betul, hari-hari setelah bapak pamit kepada Ibu untuk bersembunyi, aparat datang ke rumah—saat itu aku banyak tak mengerti, mengapa bapak harus bersembunyi, apa dosa yang bapak perbuat, dan bersembunyi dari apa—. Mereka menyentak-nyentak ibu, perlakuannya sangat kasar dan tidak manusiawi. Dan tentu saja, hari itu aparat sedang mencari bapak. Saat itu aku tak tahu, tapi kini aku tahu bahwa bapak diburu karena bapak rajin membuat puisi yang menyakiti hati presiden sehingga dengan cara apapun, presiden ingin melenyapkan bapak. Dan kepergian bapak yang tidak disertai kepulangan itu disebutkan oleh aparat sebagai: demi hati nurani, negara, dan bangsa seakan-akan kejahatan yang bapak perbuat adalah kejahatan yang maha dahsyat. Padahal, merampas hak seseorang merupakan kejahatan yang lebih sadis, bukan?

Betapa menggigil badan ini, betapa mengucur deras air mata ini ketika mendengar kisah-kisah penyiksaan tidak manusiawi yang mungkin dialami bapak: tangan diborgol, kaki diikat kabel, disetrum dengan tongkat listrik yang suaranya mencekam, seperti lecutan cambuk yang kemudian alat itu digunakan untuk menyetrum paha sampai dada, dipukuli, diinjak-injak dan yang paling parah, yaitu ditelanjangi dan dibaringkan di atas balok es selama berjam-jam. Itu semua bukan sekadar penyiksaan fisik, melainkan juga penyiksaan mental dan jiwa. Betapa keji dan tidak manusiawi.

Setelah semua luka itu, sampai hari ini aku selalu menunggu puisi bapak menjadi kenyataan: atau entah kapan/ akan kuketuk lagi/ daun pintumu/ bukan sebagai buron. Tetapi, mengapa hari ini bapak tak kunjung pulang? Padahal, bapak bukan lagi buron. Presiden yang memburu bapak sudah digulingkan bahkan sudah mati diiringi tepuk tangan. Puisi-puisi bapak banyak dibacakan mahasiswa, bahkan oleh Pak Menteri. Buku Pramoedya yang diam-diam bapak baca, kini sudah dikaji dan ditelaah oleh para kritikus, oleh kaum intelektual, atau sekadar dibaca oleh orang-orang. Pemilihan presiden kini langsung oleh rakyat. Semua orang bebas berbicara, begitu bebas sampai tak ada etikanya dan memicu perdebatan.

Itulah. Aku tak mengerti dengan negeri ini. Hal-hal yang bapak perjuangkan sudah terwujud, tetapi upaya pencarian bapak selalu tidak berhasil. Ada saja alasannya. Padahal peneror bapak sudah mati. Katanya, kasus bapak tidak diusut lebih mendalam karena dianggap tanggung jawab pelanggaran atas penghilangan bapak dan pelanggaran HAM atas yang lainnya adalah tanggung jawab perorangan, sehingga yang terhukum hanya anggota tim yang bergerak saja, itupun hanya 12-22 bulan masa hukuman. Itupun setelahnya, orang-orang terhukum ini malah mendapat promosi jabatan. Pengadilan militer tidak mampu menjelaskan atau menemukan nasib dari bapak  yang sampai saat ini entah di mana rimbanya. Ketua tim yang menzalimi bapak tidak tersentuh, hanya mendapat pensiun lebih cepat agar mampu membebaskan diri dari jerat hukum. Padahal seharusnya ia turut bertanggung jawab atau paling tidak mengetahui peristiwa yang bapak alami. Presiden yang dipilih secara langsung oleh rakyat, membuat harapan terakhirku dan ibu menjadi pupus. Kejaksaan Agung yang semestinya menjalankan mandat malah mengembalikan berkas-berkas tanpa diusut, dengan alasan yang selalu sama: berkas belum  lengkap. Orang yang ingin memperjuangkan hak bapak—dan hak-hak orang terzalimi lainnya—malah wafat diracun. Dan orang yang meracuninya sudah lalu-lalang kesana kemari bahkan merapat dengan suatu partai.

Semakin hari, aku semakin mencintai negeri ini dengan sedih. Ternyata aku tinggal di tempat di mana hukum hanya sekadar kata dan buku. Pelaksanaannya masih nol besar. Rupanya, di negeriku, permasalahan HAM adalah hal yang nomor kesekian. Yang utama adalah keselamatan diri sendiri dan kekuasaan. HAM baru akan berbicara jika kasusnya seperti, guru mencubit muridnya, guru memukul muridnya, dan lain-lain. Sedangkan untuk kasus pelanggaran berat seperti kasus bapak, itupun sudah mengendap begitu lama, tidak kunjung dibicarakan. Hanya berputar di situ-situ saja. Hanya sekadar janji-janji manis saja.

Meski demikian, tentu saja hidup harus terus beranjak. Tetapi, ketidakpastian ini seperti tombak yang menohok jantungku secara perlahan-lahan. Aku tidak bisa memeluk bapak, tapi aku juga tidak bisa menziarahi kubur bapak. Aku bisa mengingat tanggal ulang tahun bapak, tetapi aku tidak tahu tanggal wafat bapak—bahkan aku tak tahu apakah bapak masih hidup atau tidak.

Senja naik perlahan-lahan. Perenungan. Hari ulang tahun bapak sebentar lagi habis. Entah hingga berapa ulang tahun lagi aku harus menunggu bapak pulang. Entah hingga berapa kamis lagi untuk mendapatkan hak bapak secara utuh. Dan entah berapa presiden lagi untuk dapat menungkap keberadaan bapak, atau paling tidak, mengungkap letak kubur bapak. Tetapi, satu hal yang pasti, aku tahu bahwa bapak adalah orang berani.

Kalau teman-teman tanya

Kenapa bapakmu dicari-cari polisi

Jawab saja:

“karena bapakku orang berani”